Tuesday, 10 May 2011

Renungan

Penyerahan hidup adalah sebuah pengorbanan yang total kepada suatu ideologi yang dihayatinya dan kepada orang yang dilayani-dicintainya. Di dalam penyerahan hidup itu, tidak jarang orang mengalami rasa sakit, penderitaan, dan terluka. Oleh karena itu, tidak semua orang bisa melakukan hal ini. Seorang tukang becak yang setia mengayuh becak tanpa kenal lelah mencari nafkah untuk istri dan anak-anaknya adalah sebuah pengorbanan, sebuah penyerahan hidup untuk keluarga. Penyerahan hidup dan pengorbanan menjadi dua hal yang dituntut ada dalam diri umat kristiani jika kita benar-benar bertanggung jawab atas panggilan kita sehari-hari. Inspirasi Sabda Tuhan hari ini meneguhkan iman kita.

Semangat penyerahan hidup seperti itulah yang diperagakan oleh Stefanus dalam bacaan pertama. Stefanus berserah diri ketika menghadapi putusan para anggota Mahkamah Agama dengan berkata, "Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku." Stefanus dipenuhi dengan Roh Kudus dan berani berkorban demi kebenaran iman kepada Yesus. Hal itu ditegaskan dalam Injil Yohanes. Dikisahkan bahwa Yesus menegaskan diri-Nya sebagai Roti Hidup yang turun dari surga. "Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi." Roti hidup itu adalah diri-Nya sendiri yang dikorbankan bagi kita, Roti yang membawa keselamatan bagi manusia. Namun, sayangnya banyak orang bertanya-tanya tentang Dia dan kebenaran yang diucapkan-Nya. Banyak orang tidak mengerti apa yang disampaikan oleh Yesus. Padahal penyerahan hidup Yesus adalah sebuah tindakan totalitas kepada Allah Bapa, seperti diserukan para pemazmur, "Ke dalam tangan-Mu, Tuhan, kuserahkan nyawaku."

Dari sabda Tuhan hari ini, kita mau belajar seperti Stefanus dan Yesus yang berani menyerahkan hidup sebagai persembahan diri kepada Tuhan. Kerap kali kita kurang berani dan tidak bersemangat dalam melakukan pengorbanan demi suatu panggilan, ideologi ataupun cita-cita yang kita jalani. Lalu kita seperti yang dilakukan para pendengar Yesus dalam Injil hari ini: sikap tidak percaya dan meminta tanda. "Tanda apakah yang Engkau perbuat supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu?" Umat Yahudi meminta tanda pada Yesus, dan semakin tidak percaya kepada-Nya. Kepercayaan adalah dasar untuk beriman dan berinteraksi dengan Tuhan dan sesama. Mari kita bangun kepercayaan di dalam hati kita.

Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. Inspirasi Batin 2011, Renungan Sepanjang Tahun
Share :
Facebook Twitter Google+

Followers

 
Back To Top